Kaprodi Perbankan Syariah Umsida Nilai Rupiah Melemah Bukan Tanda Krisis

Perbankansyariah.umsida.ac.id — Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar Amerika Serikat dalam satu bulan terakhir memunculkan kekhawatiran publik terhadap kondisi ekonomi nasional.

Baca Juga: Perbankan Syariah Umsida Kaji Tren Pembayaran Non Tunai

Sebagian masyarakat bahkan mulai membandingkan situasi ini dengan krisis moneter 1998. Namun, Ketua Program Studi Perbankan Syariah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ninda Ardiani SE MSEI, menilai kekhawatiran tersebut perlu dilihat secara lebih proporsional.

Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Tekanan terhadap nilai tukar lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan geopolitik global, serta arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

“Pelemahan rupiah memang perlu diwaspadai, tetapi tidak tepat jika langsung disamakan dengan krisis 1998. Struktur ekonomi, sistem perbankan, dan instrumen kebijakan Indonesia saat ini jauh lebih kuat,” ujar Ninda.

Fundamental Ekonomi Dinilai Lebih Kokoh

Ninda menjelaskan, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan cukup kuat. Salah satunya adalah kondisi likuiditas perbankan yang tetap terjaga.

Likuiditas yang sehat menunjukkan bahwa lembaga perbankan masih memiliki kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek sekaligus tetap menjalankan fungsi intermediasi kepada masyarakat dan dunia usaha.

Selain itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga atau DPK yang stabil juga menjadi tanda bahwa kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan masih terjaga. Kondisi ini berbeda dengan masa krisis 1998, ketika kepanikan masyarakat terhadap sistem perbankan memicu tekanan yang jauh lebih berat.

“Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan menjadi faktor penting. Selama dana masyarakat masih tumbuh dan kualitas pembiayaan tetap terkendali, risiko kepanikan finansial dapat ditekan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti rendahnya rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing dalam sektor keuangan. Dalam konteks perbankan syariah, kualitas pembiayaan yang sehat menjadi penopang penting agar industri tetap mampu menyalurkan pembiayaan produktif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.

Menurut Ninda, stabilitas harga juga menjadi faktor penentu. Inflasi yang masih berada dalam target Bank Indonesia menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar belum menjalar secara ekstrem ke harga kebutuhan pokok.

“Selama inflasi tetap terkendali, daya beli masyarakat masih dapat dijaga. Artinya, tekanan kurs belum otomatis berubah menjadi krisis ekonomi di sektor riil,” tambahnya.

BI dan KSSK Perlu Perkuat Sinergi Kebijakan

Dalam menghadapi tekanan global, Ninda menilai Bank Indonesia tidak bekerja sendiri. Stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada sinergi antara BI, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen, menurutnya, merupakan langkah kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan arus modal keluar. Namun, kebijakan tersebut tetap perlu diseimbangkan agar tidak menekan sektor riil secara berlebihan.

“Menjaga nilai tukar itu penting, tetapi pembiayaan kepada sektor produktif juga tidak boleh berhenti. Karena itu, kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial harus berjalan searah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kebijakan makroprudensial yang akomodatif tetap dibutuhkan untuk mendorong perbankan menyalurkan pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM. Dalam perspektif ekonomi syariah, pembiayaan produktif memiliki peran strategis karena berkaitan langsung dengan pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain menjaga stabilitas moneter, BI juga berperan dalam memperluas digitalisasi sistem pembayaran melalui QRIS dan BI-FAST. Digitalisasi tersebut dinilai mampu mempercepat perputaran uang, meningkatkan efisiensi transaksi, dan memperluas inklusi keuangan.

“Digitalisasi pembayaran bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat. UMKM, pedagang kecil, dan pelaku usaha lokal dapat masuk ke ekosistem keuangan yang lebih luas,” kata Ninda.

Perbankan Syariah Harus Ambil Peran Produktif

Ninda menegaskan, kondisi pelemahan rupiah juga menjadi momentum bagi perbankan syariah untuk memperkuat peran dalam membangun ketahanan ekonomi nasional.

Perbankan syariah tidak cukup hanya menjadi lembaga penghimpun dan penyalur dana. Lebih dari itu, perbankan syariah perlu hadir sebagai instrumen ekonomi yang berpihak pada sektor produktif, UMKM, serta aktivitas usaha yang memiliki dampak sosial.

Menurutnya, prinsip kehati-hatian, keadilan, transparansi, dan kebermanfaatan dalam keuangan syariah sangat relevan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan prinsip tersebut, perbankan syariah dapat menghindari pembiayaan spekulatif dan lebih fokus pada kegiatan ekonomi riil.

“Perbankan syariah memiliki karakter yang kuat karena berbasis pada aktivitas riil dan prinsip kemaslahatan. Dalam situasi global yang tidak pasti, nilai-nilai ini justru semakin relevan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah panik dalam merespons pelemahan rupiah. Literasi keuangan menjadi kunci agar publik mampu membaca situasi ekonomi secara rasional, bukan berdasarkan ketakutan atau perbandingan yang tidak utuh dengan krisis masa lalu.

Baca Juga: Mahasiswa S2 MPI Umsida Observasi Pendidikan Anak PMI di Malaysia

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah literasi, bukan kepanikan. Pelemahan rupiah harus dipahami dalam konteks global, sambil tetap mengawal kebijakan nasional agar berpihak pada stabilitas dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Ninda.

Sumber: Ninda Ardiani SE MSEI

Bertita Terkini

Perbankan Syariah Umsida Kaji Tren Pembayaran Non Tunai
May 18, 2026By
Wisata Ziarah Wali Dorong Ekonomi Syariah Lokal
May 11, 2026By
Meningkatkan Penggunaan LinkAja Syariah Melalui Persepsi Kemudahan dan Manfaat
April 27, 2026By
Hisbah Jadi Cermin Pengawasan Ekonomi Syariah di Era Modern
April 14, 2026By
Crowdfunding Syariah Dorong Aset Koperasi Tumbuh Pesat
April 8, 2026By
Riset Umsida Ungkap Zakat Produktif Perkuat Kesejahteraan Warga Sidoarjo
April 2, 2026By
Kualitas Produk Lebih Dominan Dorong Kepuasan Nasabah BSI Sidoarjo
March 27, 2026By
Wakaf Produktif Bisa Jadi Motor Ekonomi Syariah Berkelanjutan
March 10, 2026By

Prestasi

hibah-risetmu
Dosen Perbankan Syariah Raih Hibah Risetmu Batch IX 2026 Kembangkan Riset Digitalisasi Bisnis Ibu Aisyiyah
November 18, 2025By
Azifatul Hanna Raih Yudisium Terbaik Prodi Perbankan Syariah Umsida ke-45 dengan IPK 3,91
July 21, 2025By
Kaprodi Perbankan Syariah Umsida Tunjukkan Komitmen dalam Penelitian di RisetMu Batch VIII
December 13, 2024By
Sesuai Target, Mahasiswa Ikom Sabet Tiga Medali Emas Cabor Renang Pada Pomprov Jatim 2023
July 23, 2023By
Seimbangnya Pengetahuan dan Skill Menjadi Kunci Mahasiswa Ikom Dalam Meraih Juara Pada PILMAPRES PTMA
April 15, 2023By
Battle of Agencies Berakhir, Selamat Kepada Para Pemenang!
March 6, 2023By
Top! Lagi Lagi Mahasiswa Ikom Borong Medali Juara Dalam Kejuaraan Karate Nasional
February 20, 2023By
Selamat! Mahasiswa Ikom Umsida Raih 3 Medali Dalam Kejuaraan Renang Tingkat Nasional
February 7, 2023By