Stabilkan Rupiah Tanpa Suku Bunga, Cukupkah BI Menjaga Kepercayaan Publik?

Perbankansyariah.umsida.ac.id – Pelemahan rupiah kembali menjadi perhatian publik karena dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika nilai tukar melemah, harga barang impor, biaya produksi, hingga beban utang valas dapat ikut meningkat.

Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia berada pada posisi penting untuk menjaga stabilitas, bukan hanya melalui suku bunga, tetapi juga lewat berbagai instrumen non-suku bunga.

BI telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat rupiah.

Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar valas, penguatan arus modal, koordinasi fiskal-moneter, pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder, pengelolaan likuiditas perbankan, pembatasan pembelian valuta asing, hingga pengawasan terhadap aktivitas valas korporasi dan perbankan.

Namun, pertanyaannya sederhana: apakah strategi non-suku bunga cukup untuk menjaga rupiah jika kepercayaan publik dan pasar belum sepenuhnya pulih?

Baca juga: Sharing Economy Dikuasai Negara Maju, Indonesia Punya Ruang Besar Berkembang

Rupiah Tertekan, Strategi BI Diuji

Instrumen non-suku bunga sebenarnya memiliki peran penting. Intervensi valas dapat meredam gejolak jangka pendek.

Penguatan instrumen rupiah seperti SRBI dapat menarik kembali minat investor.

Sementara pengawasan pembelian dolar dapat mencegah spekulasi berlebihan yang membuat tekanan terhadap rupiah semakin kuat.

Masalahnya, nilai tukar tidak hanya bergerak karena teknis pasar. Rupiah juga dipengaruhi oleh psikologi pelaku ekonomi.

Ketika publik merasa arah kebijakan belum cukup jelas, atau investor melihat risiko ekonomi meningkat, maka instrumen teknis bisa kehilangan daya dorongnya.

Di sinilah kritik muncul. Asia Times menilai respons BI sempat dianggap lambat karena terlalu lama mengandalkan instrumen non-suku bunga sebelum mengambil langkah yang lebih agresif.

Kritik ini penting dibaca sebagai pengingat bahwa stabilitas mata uang bukan hanya perkara intervensi, tetapi juga kecepatan, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan.

Lihat juga: Seberapa Efektif Konten Marketing Tiktok Mempengaruhi Pembelian Impulsif?

Instrumen Non-Suku Bunga Belum Cukup

Instrumen non-suku bunga dapat membantu membeli waktu. Akan tetapi, waktu yang dibeli harus digunakan untuk memperkuat kepercayaan.

Jika tidak, pasar akan kembali mempertanyakan apakah kebijakan tersebut mampu menahan tekanan dalam jangka panjang.

Likuiditas yang terlalu longgar juga bisa menjadi dilema. Di satu sisi, likuiditas diperlukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan pembiayaan sektor riil.

Namun di sisi lain, jika uang beredar terlalu banyak sementara ekspektasi terhadap rupiah melemah, pelaku pasar bisa terdorong mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar.

Karena itu, efektivitas instrumen non-suku bunga sangat bergantung pada komunikasi kebijakan.

Publik perlu memahami alasan intervensi, arah kebijakan moneter, serta koordinasi antara pemerintah dan bank sentral.

Tanpa komunikasi yang jelas, kebijakan yang sebenarnya rasional bisa dibaca sebagai kepanikan.

Etika Syariah dalam Stabilitas Rupiah

Dari perspektif ekonomi syariah, stabilitas rupiah tidak hanya dilihat sebagai urusan teknis moneter, tetapi juga sebagai bagian dari menjaga kemaslahatan.

Nilai tukar yang terlalu bergejolak dapat merugikan masyarakat, terutama kelompok kecil yang terdampak kenaikan harga kebutuhan.

Prinsip syariah menekankan kehati-hatian, transparansi, dan larangan spekulasi atau maysir.

Dalam konteks valas, transaksi seharusnya didasarkan pada kebutuhan riil, bukan sekadar mengambil keuntungan dari gejolak harga.

Karena itu, pembatasan aktivitas valas tanpa underlying transaction dapat dipahami sebagai langkah yang sejalan dengan semangat mengurangi spekulasi.

Namun, prinsip syariah juga menuntut kejelasan dan keadilan informasi. Publik perlu mendapat penjelasan yang mudah dipahami agar tidak muncul kepanikan.

Transparansi menjadi kunci agar masyarakat percaya bahwa kebijakan stabilisasi dilakukan untuk melindungi ekonomi, bukan sekadar merespons tekanan pasar sesaat.

Pada akhirnya, instrumen non-suku bunga memang penting, tetapi tidak berdiri sendiri.

Rupiah tidak hanya membutuhkan intervensi, tetapi juga kepercayaan.

Tanpa kepercayaan publik, kebijakan teknis hanya bekerja sementara.

Dengan kehati-hatian, transparansi, dan koordinasi yang kuat, stabilitas rupiah dapat dijaga secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Bertita Terkini

Riset Dosen Umsida Ungkap Sharing Economy Meluas ke Sustainability, Bisnis, dan Pariwisata
July 5, 2026By
Sharing Economy Dikuasai Negara Maju, Indonesia Punya Ruang Besar Berkembang
July 1, 2026By
Rahmah Amaliya Tembus Final, Berhasil Raih Medali Perak Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Surabaya
June 27, 2026By
Riset Dosen Perbankan Syariah Umsida Soroti Lonjakan Tren Sharing Ekonomi Global
June 23, 2026By
Inflasi Impor Mengintai, Bisakah Prinsip Syariah Menjaga Stabilitas Harga?
June 19, 2026By
Rupiah Melemah, Perbankan Syariah Hadir sebagai Penopang Ketahanan Ekonomi Rakyat
June 15, 2026By
Rupiah Melemah dan Impor Meningkat, Saatnya Perkuat Ekonomi Lokal Berbasis Syariah
June 11, 2026By
Peran Customer Service dalam Digitalisasi Bank Syariah
June 2, 2026By

Prestasi

hibah-risetmu
Dosen Perbankan Syariah Raih Hibah Risetmu Batch IX 2026 Kembangkan Riset Digitalisasi Bisnis Ibu Aisyiyah
November 18, 2025By
Azifatul Hanna Raih Yudisium Terbaik Prodi Perbankan Syariah Umsida ke-45 dengan IPK 3,91
July 21, 2025By
Kaprodi Perbankan Syariah Umsida Tunjukkan Komitmen dalam Penelitian di RisetMu Batch VIII
December 13, 2024By
Sesuai Target, Mahasiswa Ikom Sabet Tiga Medali Emas Cabor Renang Pada Pomprov Jatim 2023
July 23, 2023By
Seimbangnya Pengetahuan dan Skill Menjadi Kunci Mahasiswa Ikom Dalam Meraih Juara Pada PILMAPRES PTMA
April 15, 2023By
Battle of Agencies Berakhir, Selamat Kepada Para Pemenang!
March 6, 2023By
Top! Lagi Lagi Mahasiswa Ikom Borong Medali Juara Dalam Kejuaraan Karate Nasional
February 20, 2023By
Selamat! Mahasiswa Ikom Umsida Raih 3 Medali Dalam Kejuaraan Renang Tingkat Nasional
February 7, 2023By