Perbankansyariah.umsida.ac.id – Perkembangan sharing economy atau ekonomi berbagi tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari melalui layanan transportasi daring, penyewaan aset, hingga platform jasa digital.
Fenomena ini juga terlihat kuat dalam dunia akademik. Isu ekonomi berbagi kini menjadi perhatian banyak peneliti di berbagai negara, terutama negara-negara dengan ekosistem riset dan teknologi yang lebih maju.
Hal tersebut tergambar dalam penelitian berjudul “Bibliometric Analysis of Sharing Economy: Scientific Publications in Countries Around The World” yang dilakukan oleh Tsuroyya Putri Saadah dan M Ruslianor Maika S Hut MAB, dosen Program Studi Perbankan Syariah Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Penelitian ini menggunakan analisis bibliometrik dengan data publikasi dari Scopus dan menemukan 2.476 dokumen ilmiah terkait sharing economy dalam rentang 2012–2022.
Baca juga: Rupiah Melemah, Perbankan Syariah Hadir sebagai Penopang Ketahanan Ekonomi Rakyat
Negara Maju Masih Mendominasi

Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah dominasi negara maju dalam produksi publikasi ilmiah tentang sharing economy.
Dari total 73 negara yang tercatat berkontribusi, Amerika Serikat menempati posisi pertama dengan 726 artikel.
Posisi berikutnya ditempati China dengan 647 artikel, kemudian Inggris dengan 329 artikel, Jerman 232 artikel, dan Australia 177 artikel.
Data ini memperlihatkan bahwa negara-negara dengan infrastruktur digital, pendanaan riset, serta ekosistem inovasi yang kuat lebih aktif mengkaji ekonomi berbagi.
Mereka tidak hanya menjadi pengguna model bisnis digital, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan yang membentuk arah perkembangan konsep tersebut.
“Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa sharing economy telah menjadi isu strategis di tingkat global,” terangnya.
“Negara-negara dengan ekosistem riset yang kuat mampu membaca perubahan ekonomi digital lebih cepat, lalu mengubahnya menjadi kajian ilmiah yang berpengaruh,” jelasnya.
Lihat juga: Strategi Digital Marketing melalui TikTok Live dan Word of Mouth
Indonesia Punya Ruang Besar
Di tengah dominasi negara maju, posisi Indonesia masih tergolong kecil.
Penelitian ini mencatat Indonesia baru menghasilkan 28 artikel terkait sharing economy.
Angka tersebut jauh tertinggal dibanding Amerika Serikat maupun China. Namun, kondisi ini tidak harus dibaca sebagai kelemahan semata.
Sebaliknya, data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ruang riset yang sangat luas. Apalagi, praktik ekonomi berbagi sebenarnya berkembang cukup pesat di masyarakat Indonesia.
Platform transportasi daring, layanan pesan antar, penyewaan ruang, jasa kreatif, hingga ekosistem UMKM digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Persoalannya, praktik yang berkembang di lapangan belum selalu diikuti dengan produksi riset yang memadai.
Padahal, Indonesia memiliki kekayaan konteks sosial, budaya, dan ekonomi yang dapat memperkaya kajian sharing economy secara global.
Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memperkuat kontribusi akademik.
Peluang Ekonomi Islam dan UMKM Digital
Bagi Prodi Perbankan Syariah Umsida, tema ini memiliki relevansi yang kuat dengan pengembangan ekonomi Islam.
Sharing economy dapat dibaca melalui prinsip kerja sama, pemanfaatan aset, keadilan transaksi, dan kebermanfaatan sosial.
Namun, model ini juga perlu dikaji secara kritis agar tidak hanya mengejar efisiensi digital, tetapi juga memperhatikan keadilan bagi mitra, pelanggan, dan pelaku usaha kecil.
Indonesia dapat mengambil posisi berbeda dengan menawarkan perspektif ekonomi Islam, perbankan syariah, UMKM digital, dan platform layanan berbasis komunitas.
Perspektif ini penting karena sebagian besar kajian global masih didominasi oleh negara maju dengan pendekatan bisnis, teknologi, dan keberlanjutan.
Melalui penelitian bibliometrik ini, M Ruslianor Maika tidak hanya memetakan tren publikasi dunia, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi akademisi Indonesia.
Jika riset diperkuat, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat kajian sharing economy yang lebih kontekstual, inklusif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Pada akhirnya, rendahnya jumlah publikasi Indonesia bukan alasan untuk tertinggal, melainkan tanda bahwa peluang masih terbuka lebar.
Sumber jurnal: Bibliometric Analysis of Sharing Economy: Scientific Publications in Countries Around The World
Penulis: Indah Nurul Ainiyah













