Perbankansyariah.umsida.ac.id – Stabilitas rupiah memang harus dijaga. Namun, kebijakan tersebut membawa konsekuensi bagi industri perbankan.
BI Rate mengalami kenaikan cukup tajam dalam dua bulan. Kenaikannya mencapai 100 basis poin selama periode tersebut.
Tingkatnya bergerak dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. BI kemudian mempertahankan tingkat tersebut pada 5,75 persen.
Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. Namun, dampaknya dapat merambat menuju biaya pendanaan perbankan.
Bank syariah menghadapi persoalan yang sedikit berbeda. Mereka tidak menggunakan bunga dalam kegiatan pembiayaan.
Namun, dinamika suku bunga tetap memengaruhi lingkungan persaingan mereka. Kondisi tersebut membuat kebijakan moneter menarik untuk dikritisi.
Stabilitas makro penting bagi seluruh sistem keuangan. Namun, karakteristik perbankan syariah juga membutuhkan perhatian khusus.
Baca juga: Likuiditas Bank Syariah Makin Ketat, BSI Perlu Memperkuat Strategi Dana Murah
Biaya Dana Mulai Menguji Margin

Kenaikan BI Rate dapat meningkatkan persaingan mendapatkan dana. Bank konvensional mempunyai ruang menyesuaikan tingkat bunga simpanan.
Kondisi tersebut memengaruhi ekspektasi keuntungan para pemilik dana. Bank syariah akhirnya menghadapi tekanan kompetitif serupa.
Nasabah tetap membandingkan keuntungan berbagai produk keuangan. Akibatnya, biaya memperoleh dana berpotensi ikut meningkat.
Persoalan muncul ketika biaya dana bergerak lebih cepat. Penyesuaian imbal hasil pembiayaan membutuhkan proses berbeda.
Ketidakseimbangan tersebut berpotensi mempersempit margin bank syariah. BSI masih menunjukkan pengelolaan biaya dana yang membaik.
Cost of fund tercatat 2,19 persen pada Juni 2026. Capaian tersebut penting dalam menjaga efisiensi pendanaan.
Namun, angka tersebut tidak menghilangkan tantangan struktural. Persaingan likuiditas perbankan tetap berlangsung semakin ketat.
Lihat juga: Bongkar Strategi Menembus Jurnal Internasional Bereputasi, Prodi Akuntansi Umsida Datangkan Ahli
Kebijakan Moneter Perlu Lebih Inklusif
Kondisi ini memunculkan pertanyaan bagi sistem keuangan syariah. Apakah transmisi kebijakan moneter sudah cukup ramah syariah?
Pertanyaan tersebut bukan berarti menolak kebijakan suku bunga. Bank Indonesia mempunyai mandat menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun, dampaknya terhadap setiap industri dapat berbeda. Bank syariah membutuhkan ekosistem likuiditas sesuai karakter operasionalnya.
Ketergantungan terhadap dinamika bunga perlu semakin dikurangi. Tujuannya bukan mengisolasi industri dari kebijakan moneter.
Sebaliknya, sistem syariah membutuhkan instrumen alternatif lebih dalam. Instrumen tersebut dapat memperkuat pengelolaan likuiditas secara efisien.
Bank juga memperoleh pilihan pendanaan lebih beragam. Tanpa pendalaman tersebut, tekanan suku bunga tetap terasa.
Bank syariah dapat menghadapi beban pengelolaan margin lebih berat. Kondisi itu akhirnya memengaruhi daya saing produk pembiayaan.
Instrumen Syariah Perlu Diperkuat
Penguatan pasar sukuk dapat menjadi salah satu jalan. Sukuk menyediakan instrumen sesuai prinsip keuangan syariah.
Pasarnya juga dapat mendukung kebutuhan pengelolaan likuiditas bank. Instrumen seperti PASBI juga perlu semakin diperkuat.
Repo syariah dapat diperluas dalam ekosistem perbankan nasional. Keduanya membuka alternatif pengelolaan kebutuhan likuiditas jangka pendek.
Pasar antarbank syariah juga membutuhkan kedalaman lebih besar. Transaksi yang aktif dapat memperkuat fleksibilitas pengelolaan dana.
Bank tidak harus bergantung pada penghimpunan dana mahal. Langkah tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
Regulator dan industri perlu memperluas instrumen bersama. Infrastruktur pasar juga harus mendukung transaksi secara efisien.
Bank syariah sendiri harus memperkuat dana murah. Ekosistem digital dapat membantu mempertahankan basis nasabah.
Loyalitas nasabah juga perlu dibangun melalui layanan berkualitas. BI Rate tinggi akhirnya bukan sekadar tantangan makro.
Kondisi tersebut menjadi ujian ketahanan perbankan syariah. BSI menunjukkan efisiensi biaya dana masih dapat dijaga.
Namun, efisiensi satu bank belum menyelesaikan persoalan industri. Ekosistem likuiditas syariah membutuhkan fondasi semakin kuat.
Instrumen syariah juga perlu lebih dalam dan kompetitif. Dengan begitu, stabilitas makro tidak harus mengorbankan profitabilitas syariah.
Bank dapat menjaga margin sekaligus memperluas pembiayaan produktif. Di situlah kebijakan moneter semakin ramah terhadap keberagaman sistem keuangan.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah













